SELAMAT DATANG DI BLOG ISLAMUNA!

Cari Artikel

MOHON UNTUK KIRIMAN ARTIKEL ADALAH KARYA TULIS SENDIRI YANG BELUM DIPOSTING ATAU DIPUBLIKASIKAN DI WEB/BLOG MANAPUN..

Please, Translate In Your Language..

Rabu, 28 September 2011

Demokrasi Informasi; Menuju Pertarungan Ideologi

oleh: Moh Nurrohman
Email: masnur_indah@yahoo.co.id
Facebook: Mas Nur Rohman

Judul di atas sengaja penulis angkat terkait fenomena yang melanda sebagian santri pondok pesantren dewasa ini. Santri, seiring dengan terbukanya kran demokrasi pasca reformasi, kini mulai banyak yang tergiring oleh opini melalui informasi-informasi dari buku-buku, majalah-majalah dan koran, yang memuat ideology-ideologi masif. Sebagian santri mempercayai informasi sebagai kebenaran, akibatnya, mereka menjadikan informasi terebut sebuah pembenaran terhadap sesuatu, seakan-akan mereka lupa bahwa informasi adalah sebatas kabar (khabr), yang belum dapat dipastikan kebenaran atau kebohongan. Informasi yang ada dalam buku atau majalah tidak lain hidangan yang diperuntukan kepada membaca, dan selebihnya pembaca tersebut meneliti keakuratannya..


Suatu hari dalam sebuah simposium alumni pondok pesantren, seorang alumni bertanya kepada kiainya perihal pendapat kiai tentang perilaku kiai A. Alumni tersebut mengatakan bahwa menurut berita sebuah majalah, kiai A merupakan agen yahudi, lalu ia menunjukan majalah tersebut kepada kiainya sembari meyakinkan apa yang tertulis dalam berita itu. Sebelum dijawab, kiai tersebut berbalik Tanya, “apakah kamu percaya dengan koran tersebut? “saya sangat percaya, karena banyak orang yang mengatakanya” jawab alumni itu. “jangan percaya dengan majalah” tambah kiai. Namun alumni tersebut ngotot, seakan-akan ia hendak meyakinkan kiai tersebut. Maka kiaipun memberikan nasihat agar jangan sembarangan menuduh seseorang sebagai antek-antek yahudi, kristen dan kafir, sebelum meneliti terlebih dahulu secara cermat dengan klarifikasi (tabayaun) dari orangnya langsung atau paling tidak dari orang terdekatnya yang terpecaya. Jangan meminta klarifikasi dari orang yang memang nyayat-nyata tidak suka dan benci dengan yang tertuduh tersebut. Agaknya jawaban kiai tersebut kurang memuaskan, alumni itupun langsung menyodorkan majalah yang memuat berita tentang si A ke hadapannya. Sanga kiai berkata “sudah, sudah tidak usah menyodorkan korannya, buang saja koran itu”. Alumni tersebut diam dengan meninggalkan penasaran yang cukup mendalam.
 
Majalah adalah tulisan seseorang yang sejatinya tidak luput dari kebohongan, karena ia ditulis dalam konteks yang diilhami sudut pandang penulis. Karenaya, ia pun tidak lepas dari subyektifitas penulisnya. Berbeda dengan Al-Quran yang telah disepakati sebagai firman Allah, dan disepakti kebenaranya. Patutlah mereka menyadari bahwa Al-Quranlah yang harus dijadikan rujukan ataupun referensi terhadap sebuah fenomena, disamping diperlukan penjelasanya melalui keterangan Hadits. Wallahu 'alam.....

ILMU BAHASA ARAB | Belajar Bahasa Arab Online, Ngaji Nahwu Shorf, Tata Bahasa Arab, Arab Fushkha

TEKNIK SEO MUDAH DAN GRATIS | Optimasi Seo, Seo Tools, Optimasi Blog, Seo Terbaik, Seo Gratis

Tambak Blog

KOREAN LEARNING - JOB SEEKER | TKI Korea, Belajar Bahasa Korea, Tes EPS TOPIK, Budaya Korea

Total Tayangan Laman